Judul Buku : Orang Maiyah “Terang dalam Kegelapan Kaya dalam Kemiskinan”
Penulis : Emha Ainun Nadjib
Penerbit : Progress, Yogyakarta
Cetakan : I, 2007
Tebal : 64 Halalaman
Peresensi : Wusthol Bachrie, pustakawan Hasyim Asy’ari.
Domisili di Minggiran MJ II/ 1482 B Yogyakarta 5514112
Perjalanan Emha Ainun Nadjib yang akrab dengan sapaan Cak Nun telah menemukan cahaya Muhamamad. Dimana cahaya tersebut telah memberikan jalan yang lurus kepada kita (Orang Maiyah). Mungkin saja orang mengatakan Cak Nun adalah seorang “Nabi” yang diamanati Tuhan untuk menemani umat, menyapa kaum marginal. Bertegur sapa dan bercinta dengan manusia dari segala lapisan sosial, beragam agama dan etnis manapun. Dunia yang siang dan malam, bumi yang berrotasi dan berrevolusi, semuanya diikuti Cak Nun untuk selalu menemukan ilmu-ilmu baru tentang hidup dan kehidupan. Tentunya, ini dalam rangka menebar cahaya cinta bagi sesama dan semesta.

Namun bagi Orang Maiyah itu tidak menjadikan persoalan dan tidak dianggap penting sebuah  pengakuan bahwa dirinya seorang Nabi. Karena yang dibutuhkan bagi Orang Maiyah bukan pada esensi pengakuannya, namun bagaimana seorang pemimpin bisa memberikan jalan dan pencerahan yang menuju pada perubahan diri sehingga menjadi manusia yang lebih baik. Hal inilah yang menjadikan Orang Maiyah cinta terhadap Cak Nun, sedikit nyeleneh, ketika penulis memberikan judul bahwa Cak Nun Nabinya Orang Maiyah bukan berarti kita mengakuinya. Namun Cak Nun adalah pembimbing kita setelah Nabi. Kutemukan hati dan ladang ilmu lewat Maiyahan di kasihan bantul setiap sebulan sekali yaitu malam tujuh belas dengan Mocopat Syafaatnya.

Dari sini kutemukan cahaya cinta dan kemesrahan dalam hati. Dimana Cak Nun telah membawa pesan cinta dan kedamaian untuk semua orang. Malam saat itu terasa surga yang tidak pernah kutemukan, hati yang keras menjadi dingin seolah ada getaran yang menusuk qolbuku, ketenangan, kesenangan, ketentraman, kedamaian, dan semuanya dalam kerinduan “Nabi”. Shalawat bergemah dan bersenandung dalam Maiyahan dengan bercampur syair-syair kerinduan, dengan sambung rasa dan tanya jawab
dari berbagai persoalan yang ada. Semuanya telah dibicarakan dan didiskusikan langsung oleh Cak Nun kepada semua jamaah Maiyah dengan harapan akan menemukan berbagai solusi dan jalan yang menuju pada hamba yang beriman. Menemukan pertolongan dari yang khalik dalam
mencapai kehidupan. Tanpa terkecuali ada jalan lain yang lebih baik.

Begitu banyaknya acara Maiyahan yang dipimpin oleh Cak Nun sendiri seperti di Jogja Mocopat Syafaat setiap malam tanggal 17 bulan Masehi, Phadangmbulan Jombang malam 14 bulan hijriyah, Gambang Syafaat Semarang setiap tanggal 25 bulan Masehi, Kenduri Cinta Jakarta setiap Jum’at kedua bulan Masehi. Juga yang tentatif 2-3 bulanan di Malang, Surabaya, Hongkong, Malaysia dan kegiatan ini juga ada yang baru beberapa tahun juga ada yang sudah 19 tahun. Padahal acara dan kegiatan ini sangat lama, kita bisa bayangkan sendiri kegiatan ini berlangsung mulai dari jam delapan sampai dengan jam tiga pagi dan kira-kira sekitar 5 sampai 7 jam-an. Namun kegiatan ini semuanya hanya karena idzin Allah. Dimana zaman sekarang ini kita semua sedang dicoba
oleh nafsu dan sahwat untuk melakukan perbuatan yang hina, yang dibenci oleh Allah (hal 4).

Tentu perjalanan dan waktu yang bisa merubahnya terutama bangsa kita ini. Indonesia dari dulu sampai sekarang masih sakit, inilah yang menjadi kegelisahan Cak Nun dan Orang-orang Maiyah dimana semua umat manusia baik itu yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Yahudi, dan yang tidak beragama sekalipun kesemuanya adalah bersaudara. Di dalam kegiatan Maiyahan dimanapun tempatnya, kita pasti akan menemukan orang aneh seperti berandalan, preman, anak jalanan, maling, pencopet, kaum bersarung (salafi), bapa dan ibu, pemuda dan pemudi, sarjana, pejabat, dokter, guru dan banyak yang kiranya tidak bisa disebutkan satu persatu. Ini semuanya tidak lain bertujuan untuk menyelamatkan umat dan bangsa.

Bangsa ini selalu diwariskan dan diteruskan oleh umat manusia yang hidup di dunia tanpa terkecuali. Kehancuran dunia datangnya dari ulah umat manusia itu sendiri. Sehingga, Cak Nun tanpa ragu-ragu untuk selalu mengingatkan dan selalu berpesan dalam cinta damai sesama umat karena semuanya adalah bersaudara. Kebersamaan mengajak yang ma’ruf merupakan prinsip yang dipegang oleh Cak nun terhadap semua umat manusia tanpa memandang kesetaraan hidup. Karena semuanya adalah sama-sama makhluk yang akan dipertanggung jawabkan dihadapan Tuhan.

Buku yang berjudul Orang Maiyah merupakan buku seri Ilmu Hidup, memang tidak setebal dengan buku-buku yang lainnya, apalagi dengan judul yang simpel orang membaca yaitu Orang Maiyah yang seakan-akan buku ini sangat khusus. Namun sebenarnya buku ini sangat layak dibaca pada umumnya. Karena didalam buku ini kita paling tidak akan mendapatkan pengetahuan dari buku tersebut, dimana ada catatan sedikit sebuah perjalanan Orang Maiyah yang sebelumnya beliau merasakan kegelisahan dalam menempuh kehidupan. Namun setelah mengikuti acara yang dipimpin langsung oleh Cak Nun tiba-tiba beliau merasakan ada ketenangan untuk menjalankan serta menempuh kehidupan yang lebih baik.

Dengan kehadiran ini, Cak Nun paling tidak bisa memberikan ketenangan hati kepada semua orang. Juga bisa merubah tatanan bangsa yang sekarang ini sedang mengalami krisis spiritual. Dimana setiap manusia sangat membutuhkan ilmu yang bisa menjaga dan membimbing, agar kita tidak terjerumus dalam perbuatan-perbuatan yang dilarang oleh Tuhan.

Apalagi bagi Orang Maiyah, dengan kehadiran Cak Nun dalam acara rutinan yang diadakan satu bulan sekali dan dimanapun beliau berada seakan telah membawa kita dalam kesadaran hidup yang semestinya. Buku yang ditulis oleh Cak Nun sangat mudah untuk dipahami dan dimengerti leh semua orang karena di dalam isinya tidak ada kata-kata yang mengandung filsafat dimana banyak orang yang tidak paham dengan stilah ini.

Sebelum bangsa kita bangkit dari kesadaran yang sesungguhnya Cak Nun kan selalu hadir di tengah kemelutnya sebuah persolan karena bagi Cak un kitalah yang bisa merubahnya.  Maka pantas jikalau Cak Nun bergelar “Nabi” dalam konteks mikrokosmos. Yaitu pembawa risalah yang enjadi sahabat, menjadi guru sekaligus murid, menjadi motivator bagi siapapun yang didatangkan Tuhan kepadanya. Mari dengan kehadiran buku ini kita mengharap selalu dalam lindungan Tuhan yang selalu cinta dan kadang juga benci. Ma’rifat Tuhan sesungguhnya ada pada manusia itu sendiri maka buku seri ini akan selalu hadir pada anda yang akan membawa pada keberuntungan dunia dan akhirat. Wallahu a’lamu isshowaab!

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.